Oleh: Dr. Drs. Sayid Fadil, SH, M.Hum
(Sekretaris Jenderal Partai PADI)

Karawang – Dalam dinamika politik nasional yang seringkali terjebak pada pragmatisme transaksional, Partai PADI hadir dengan visi yang jauh melampaui sekadar perebutan kursi kekuasaan. Sebagai “Insan PADI”, kita dituntut untuk meluruskan kembali niat: apakah kita hadir di sini untuk membangun karakter bangsa yang bermartabat, atau kita hanya menjadi pengejar jabatan yang rapuh?
Menolak Pragmatisme, Membangun Martabat
Banyak politisi hari ini menggadaikan harga diri demi sebuah posisi di eksekutif maupun legislatif. Namun, mari kita renungkan: jika tujuan akhir hanyalah jabatan, apa yang terjadi ketika kita gagal mendapatkannya? Kekecawaan mendalam, stres tinggi, dan hilangnya jati diri seringkali menjadi akhir dari perjalanan mereka yang berpolitik dengan cara transaksional.
Di Partai PADI, kami percaya bahwa setiap peristiwa yang kita alami—kegagalan maupun keberhasilan—adalah hikmah berharga. PADI bukanlah gerbong bagi mereka yang sekadar mencari prestise atau pengakuan. Jika tujuan Bapak/Ibu bergabung dengan kami hanya untuk menjadi “penggembira” politik, maka Anda telah berada di alamat yang salah.

Visi di Balik AD/ART: Kembali ke Grand Norm
Landasan PADI sangat kokoh. Sesuai AD/ART, tujuan kita adalah mengimplementasikan amanat Pembukaan UUD 1945 alinea ke IV serta nilai nilai luhur Pancasila. PADI lahir untuk membangun manusia Indonesia yang mencintai tanah air, menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal, serta mewujudkan keadilan yang bermartabat.

Kita adalah partai perintis, bukan partai pewaris. Di PADI, bukan sekadar follower, melainkan leader. Ketua DPP, DPD, hingga DPC adalah pejuang, bukan relawan. Ini adalah tanggung jawab besar yang harus dipahami oleh seluruh jajaran pengurus hingga ke akar rumput.

Membangun Gerakan Zero Cost
Di tengah “anomali” pemilu yang seringkali mengandalkan kekuatan finansial raksasa, PADI membuktikan diri mampu eksis dengan pola zero cost. Eksistensi kita kini mulai diperhitungkan oleh partai partai lain. Ini bukan isapan jempol, melainkan hasil potret lapangan yang menunjukkan betapa kuatnya militansi kader PADI di seluruh tanah air.

Kami menyadari bahwa jalan menuju kontestasi 2029 membutuhkan logistik yang terukur. Oleh karena itu, DPN telah merancang sistem pendanaan yang efektif dan efisien dalam tiga kluster strategis yang akan segera kami sosialisasikan. Namun, sebelum bicara soal logistik, kami ingin melihat sejauh mana “rasa memiliki” terhadap partai ini.

Tegas dan Terukur: Evaluasi demi Kemajuan
PADI membutuhkan nakhoda yang serius dan fokus. Kami tidak akan menahan yang tidak lagi sejalan dengan visi perjuangan ini. Sebaliknya, terhadap mereka yang tidak menunjukkan akselerasi kepemimpinan yang mumpuni, DPN tidak akan ragu untuk melakukan evaluasi, penggantian, hingga pemberhentian. Ini bukan pekerjaan main main.

Melampaui Politik Praktis
PADI menawarkan lebih dari sekadar kursi parlemen. Kita membangun komunikasi, silaturahmi, dan persaudaraan sesama anak bangsa dari Sabang sampai Merauke. Dalam bingkai NKRI, kita akan terus menggarap isu ekonomi, budaya, dan kearifan lokal sebagai bagian dari kontribusi nyata kita untuk Indonesia.

Mari kita samakan frekuensi. PADI bukan hadir untuk menambah jumlah partai di Kemenhum semata, tetapi untuk menjadi solusi bagi Indonesia. Jika generasi siap menjadi pejuang, mari kita bergandengan tangan.
PADI… TUMBUH BERSAMA
PADI… MAJU BERSAMA
PADI… SOLUSI UNTUK INDONESIA

(Mulyadi)